Featured

Touring Badau – Tayan : 11 Jam

Pada saat pertama kali meninjakkan kaki di tanah Uncak Kapuas (Kapuas Hulu) terbayang satu hal yakni jarak yang begitu jauh dan sulit akan ditempuh untuk balik ke kampung halaman, terlebih itu harus ditempuh dengan rute darat. Tanggal 16 februari 2015 tanah yang pertama kali di pijak ialah bandara Pangsuma di Kota Putussibau, yang merupakan ibu kota dari kabupaten Kapuas Hulu. Sesaat memasuki kota, terasa suasana yang berbeda dengan kota-kota lainnya di kabupaten yang ada di provinsi kalimantan barat, hal ini cukup wajar mengingat posisi geografisnya berada di hulu sungai kapuas yang notabene bukan merupakan jalur lintas antar kabupaten.

Perjalanan menuju ke tempat kerja masih harus di tempuh sekitar 4 jam lagi menggunakan transportasi dari, cukup beruntung memang di tahun tersebut infrastruktur jalan sudah banyak yang di aspal dan beberapa sudah layak dilalui walaupun masih dalam ‘tanah kuning’. Pertanyaan pertama yang muncul di kepala ialah bagaimana untuk kembali ke kampung halaman, apakah harus lewat udara juga atau bagaimana. Untunglah, ada solusi lain yakni jalan kebun yang dibuat oleh perusahaan yang awalnya untuk mempermudah jalur evakuasi TBS (tandan buah segar/buah sawit), yang jarak tempuhnya sekitar 4 jam untuk sampai kota Sintang atau 11 jam untuk sampe ke kota Tayan.

Selama 4 tahun bekerja di wilayah Badau – Kapuas Hulu, dalam setahun paling tidak 4 kali dalam setahun pulang kampung. Perjalanan yang cukup melelahkan selama 11 jam pun harus ditempuh, berbagai halangan selama perjalanan seakan menjadi teman yang selalu menjadi cerita, baik kehujanan di jalan, sampai di rumah sudah subuh, jalan yang kebanjiran, rantai kendaraan putus, jalan yang berlumpur, serta bermandikan debu jalanan.

Bagi sebagian orang, menempuh perjalanan selama 11 jam menggunakan sepeda motor bukan lah pilihan, sebab masih ada transportasi travel/taxi dan bus reguler dengan tujuan Pontianak-Badau dan sebaliknya yang beroperasi setiap hari. Tapi bagi saya pribadi, pulang-pergi dari tempat kerja menuju kampung halaman menggunakan sepeda motor menjadi cerita tersendiri, sebagai salah satu cara untuk mengenai wiyalah paling utara dari provinsi ini yang hanya sedikit orang tahu, serta bisa berinteraksi dengan warga dimana kita singgah untuk beristirahat sejenak.

Tidak semua orang bisa melakukan hal ini, sebuah pengalaman yang akan selalu membekas dalam hidup ini, sebuah pelajaran hidup yang tidak akan terulang kembali, sebuah perjalanan yang dilalui dengan hati yang gembira, hingga akhirnya menemukan pilihan yang lebih baik di kota, tanpa melupakan mereka yang sudah pernah membantu selama perjalanan 4 tahun tersebut.

Kalumi Pontianak : Semangat Baru di tahun 2019

Kalumi Pontianak atau Kalumi Chapter Pontianak merupakan komunitas non-profit yang di bentuk sejak tahun 2012 di Kota Pontianak, Kalimantan Barat untuk mengakomodir lulusan atau alumni dari Sekolah Kristen Makedonia yang berada di sekitar Kota Pontianak. Kalumi merupakan singkatan dari Ikatan Alumni Makedonia atau Ikatan Sekolah Kristen Makedonia. Ini merupakan sekolah unggulan pedesaan yang berlokasi di Dusun Jamai Luar, Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak.

Ikatan Alumni Makedonia (Kalumi) dibentuk di SKM pada bulan Juni 2012, bertepatan dengan diadakannya Reuni ke-1 lintas angkatan. Kemudian pada bulan Oktober 2012 dibentuk Kalumi Pontianak dengan mengakomodir alumni yang berada di Kota Pontianak melalui pembuatan group facebook “Kalumi Chapter Pontianak”. Seiring berjalannya waktu anggota Kalumi Pontianak terus berganti dikarenakan ada yang sudah lulus kuliah dan bekerja di daerah lain, namun semangat untuk memajukan komunitas ini tetap ‘berkobar’.

Berbagai media komunikasi dilakukan oleh Kalumi Pontianak, mulai dari group facebook, twitter, group whatsapss, hingga yang terbaru instagram. Berbagai kegiatan pernah di ikuti dan di buat mulai dari peringatan Earth Hour, Baksos Gereja, hingga penanaman Bakau sebagai wujud tanggungjawab Kalumi pada lingkungan sekitar.

Pasang surut komunitas juga di alami oleh Kalumi Pontianak, namun tetap terus berusaha eksis melalui beberapa alumni yang setia mengibarkan bendera Kalumi diberbagai kegiatan (akan dibahas di lain waktu). Memasuki usia yang ke 7 (tujuh) tahunnya Kalumi Pontianak memulai bergairah kembali melalui page Instagram ‘@kalumipnkofficial’ yang disertai beberapa tagline seperti #InfoKalumi, #KalumiHistory, #InfoKegiatan, #KalumiFunFutsal, #KalumiLebihBaik, dan tidak lupa #OneBloodOneKalumi.

Berikut beberapa postingan terkait page ‘@kalumipnkofficial’ :

page Instagram ‘@kalumipnkofficial’
#KalumiFunFutsal
#InfoKalumi
#KalumiHistory
Postingan pertama IG @kalumipnkofficial

editor : Kalumi PNK

Resep Lemang Ketan Tradisional

Bahan : 
– 1 Kg Beras ketan/pulut putih sebanyak 1 kg
– 3 butir kelapa, kemudian diparut dan di ambil santannya
– 1 Siung Bawang Puting
– Garam secukupnya
– Bumbu tambahan lainnya jika ketan akan ditambahkan isian sesuai selera

Alat :
– 3 atau 4 batang buluh bambu dengan ukuran 80 cm
– 3 atau 4 daun pisang muda beserta ruas pelepahnya (menyesuaikan banyaknya buluh bambu).

Langkah:
1. Beras ketan di cuci sampai bersih, kemudian direndam sekitar dua jam
2. Siapkan santan kelapa yang diambil dari perasan kelapa parut menggunakan kain kasa sebanyak  1 liter
3. Haluskan satu siung bawang putih dan aduk ke dalam santan kelapa yang sudah disiapkan. Manfaat bawang putih ini bertujuan untuk membuat wangi dan mengawetkan lemang sehingga tidak cepat basi
4. Tambahkan garam ke santan hingga rasanya sangat tajam
5. Siapkan buluh bambu yang sudah dibersihkan
6. Ambil pelepah pisang, belah dua ujungnya dan jepitkan ke daun pisang muda dan gulung sesuai ketebalan
7. Gunting sisa daun pisang muda, dan daun yang sudah dijepit dengan pelepah dimasukkan ke dalam buluh, lalu rapikan dengan menepuk-nepuk buluh bambu
8. Sebelum ketan dimasukan kedalam buluh bambu, campurkan tambahan isian sesuai selera yang sudah disiapkan.
9. Masukkan ketan yang sudah direndam ke dalam buluh bambu yang sudah dilapisi daun pisang muda, jangan terlalu penuh, sisakan bagian atas sekitar 10 cm untuk memberi ruang ketan menggembang serta penutuh buluh bambu tersebut


10. Tuangkan santan kelapa ke dalam buluh bambu hingga merendam semua ketan didalamnya
11. Lakukan hal yang sama pada buluh bambu yang lain hingga ketan habis terpakai
12. Siapkan tempat pembakaran untuk sandaran lemang, dan dibawahnya disiapkan kayu bakar. Tiang pembakaran dapat dibuat dari kayu yang tidak mudah terbakar oleh api
13. Kayu dibakar terlebih dahulu, setelah menghasilan arang agak banyak, sandarkan buluh lemang pada kayu yang sudah disiapkan, bolak-balik buluh lemang agat tidak gosong sebelah. Gunakan kain basah untuk memegang buluh lemang agar tidak kepanasan.
14. Periksa bagian atas lemang, jika santannya habis, dapat dituangkan kembali hingga ketan matang.
15. Ketan yang dibakar dalam buluh bambu haru di cek kematangannya agar tidak gosong. 
16. Setelah matang, angkat dan pindahkan dari tungku pembakaran. 
17. Setelah dinginkan, lemang kemudian dibelah, dipotong-potong, dan disajikan.
18. Lemang ketang tradisional dapat bertahan selama 2-3 hari.

Lemang Ketan sedang dalam proses pemangangan

penulis : auditor05

Pdt. Bigman Sirait (pendiri Yayasan MIKA), telah berpulang untuk selama-lamanya

Setelah sekian lama dalam masa perawatan yang cukup panjang, Pdt. Bigman Sirait (pendiri Yayasan MIKA), berpulang ke pangkuan Bapa di Surga. Tuhan telah memberikan yang terbaik dan memanggilnya kembali ke rumah Bapa di Surga, sang babe dan panutan bagi banyak orang yang mengenalnya, tepatnya pada hari sabtu (29/06/2019) pukul 20.44 WIB, pada usia 58 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading-Jakarta. Pemberitahuan resmi telah di sampaikan oleh Keluarga Besar Alm. Pdt. Bigman Sirait via whatsapp.

Lahir di Pematang Siantar pada 11 Desember 1961 dengan nama Bigman Fredore Leonard Sirait atau yang lebih dikenal dengan nama Pdt. Bigman Sirait, beliau merupakan Pendeta dan Gembala Sidang Gereja Reformasi Indonesia di Jakarta. Pendeta yang akrab dipanggil babe ini juga merupakan pendiri Yayasan MIKA yang juga mendirikan Sekolah Kristen Makedonia, merupakan salah satu sekolah unggulan di Kalimantan Barat yang terletak di Dusun Jamai, Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak. Sebagai sarana pelayanannya beliau aktif berkhotbah di televisi, radio, serta social media.

Meninggalkan seorang istri bernama Greta Mulyati, dua orang putri bernama Kezhia Bianta Sirait dan Keithy Dorothy Sirait, serta seorang putra bernama Kennan Jonathan Sirait. Jenazah akan disemanyamkan di Rumah Duka Sentosa Ruang B-C, RSPAD Gatot Subroto, Jl. Kwini – Jakarta Barat, serta akan di lakukan kremasi pada tanggal 2 Juli 2019 pada pukul 08.00 WIB yang akan dilayani pada Pebaktian Pelepasan oleh Pdt. Netsen dari Gereja Reformasi Indonesia.

Selamat jalan Babe kami yang tercinta. Perjuangan mu akan kami teruskan. Amin.

penulis : auditor05

Apa itu KTU di Perkebunan Kelapa Sawit

Secara Etimologis, Tata Usaha adalah kegiatan memberi bantuan dalam mengelola informasi, account report, sumber daya manusia, asset/inventaris, persediaan material, kearah suatu tujuan yang terhimpun dalam organisasi/perusahaan. Secara luas Tata Usaha adalah kegiatan untuk mengadakan pencatatan dan penyusunan keterangan-keterangan/data sehingga keterangan-keterangan/data itu dapat digunakan secara langsung sebagai bahan informasi bagi pimpinan organisasi/perusahaan yang bersangkutan .

Tata Usaha juga melayani pelaksanaan sesuatu pekerjaan operatif dengan menyediakan keterangan yang diperlukan organisasi/perusahaan Secara Etimologis, Tata Usaha adalah kegiatan memberi bantuan dalam mengelola informasi, account report, sumber daya manusia, asset/inventaris, persediaan material, kearah suatu tujuan yang terhimpun dalam organisasi/perusahaan.

Tugas dan fungsi KTU :
– Mengendalikan cash flow unit kebun atau pabrik
– Mengumpulkan dan mengolah data serta informasi yang berkenaan dengan perencanaan dari divisi/afdelling/bagian, untuk menyusun rencana dan kebijakan serta bahan laporan tahunan
– Memastikan kehandalan analisis account report, persediaan material , tenaga kerja.
– Mengkoordinir usulan rencana kerja dan program kegiatan masing-masing bagian/divisi/afdelling/bidang untuk dilakukan koreksi penyempurnaan dan pembahasan baik di tingkat management lokal maupun untuk keperluan management pusat
– Memastikan penyusunan program, anggaran atau budgeting disesuaikan kondisi dan kebutuhan pada masing –masing divisi/afdelling/bagian.
– Kepala Tata Usaha diberikan wewenang untuk memberikan reminder kepada pimpinan atas  realisasi biaya berdasarkan anggaran tahunan (budget). Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan/management.

Peranan Kepala Tata Usaha :
– Melayani pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan operatif untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi/perusahaan.
– Menyediakan keterangan-keterangan dan sejumlah data bagi pucuk pimpinan organisasi / perusahaan untuk membuat keputusan atau mengambil tindakan yang tepat.
– Membantu kelancaran perkembangan organisasi / perusahaan sebagai satu kesatuan secara keseluruhan. Menyiapkan Laporan Manajemen.

Struktur posisi dan jabatan KTU di salah satu perkebunan kelapa sawit swasta :

Pada saat bertugas, KTU harus melapor ke Estate/Factory Manager dan Koordinator KTU. Kantor Besar merupakan tempat KTU bertugas sehari-hari dengan dibantu beberapa karyawan kantor / krani administrasi, seperti pembukuan, kasir, payroll & personalia, gudang, dan admin tanam.

Mengawasi anggota memberesi dokumen
Meja KTU di project perkebunan (1)
Meja KTU di project perkebunan (2)

Orang tua selama bekerja di perkebunan

Sebagai seorang anak muda bukan dengan latar belakang pendidikan Pertanian atau Agronomi berkarir di perkebunan kelapa sawit tidak pernah ada dalam benak selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Seketika semuanya berubah ketika, suatu hari datang tawaran untuk mengikuti test untuk menjadi bagian dari perusahaan perkebunan terbesar di negeri ini. Singkat cerita, setelah lulus test, diterima bekerja, mengikuti training selama 6 bulan di pulau Sumatera, sampai akhirnya ditempatkan kembali di provinsi asal. Disinilah cerita itu bermula, cerita selama kurang lebih 4 tahun tinggal di perkebunan yang tidak pernah akan terlupakan.

Ketika pertama kali penempatan, sesuai dengan keputusan management local saat ini, untuk tempat tinggal diaturkan 1 unit rumah staff yang nantinya ditempat bersama seorang KanitPAM kebun. Ketika pertama kali menghuni rumah tersebut, ada kesan pertama yang membekan hingga hari ini, yakni disiplin waktu dan kebersihan dari pak KanitPAM. Saya memanggilnya dengan sebutan Pak De (sesuai panggilan dari yang muda kepada yang lebih tua yang digunakan didaerah asal beliau). Untuk menghormati pekerjaan beliau dalam tulisan ini tidak akan dipublikasikan nama aslinya, namun jika dari foto yang ditampilkan bagi orang terdekatnya pasti mengetahui tentang beliau.

Selama tinggal di areal perkebunan kelapa sawit kurang lebih 4 tahun, saya dan pak de pernah berada di kebun yang sama selama 2 tahun 1 bulan di dua kebun yang berbeda. Pada periode tersebut banyak hal yang dipelajari dari beliau, mulai dari profesionalitas bekerja, ketegasan, komitmen, sampai dengan saya menyadari beliau juga bersedia berdiskusi dan menerima masukan walaupun memiliki kemampuan dan pengalaman panjang. Banyak nasehat-nasehat yang disampaikan baik secara langsung maupun tersirat dari cerita-ceritanya. Hal ini secara tidak langsung mengingatkan pada kedua orang tua di kampung halaman, dimana dikala merantau masih ada memberikan nasehat/wejangannya seperti menasehati anak sendiri. Ada satu hal yang masih belum dapat saya dipenuhi hingga saat ini, beliau mengatakan “mainlah ke Jogja, sekalian pas saya cuti, jdi bisa sekalian mengantar untuk jalan-jalan”.

Sampai dengan hari ini beliau masih bekerja di perkebunan kelapa sawit sebagai seorang KanitPAM kebun. Sehat selalu pak de, agar harapan-harapan itu bisa terwujud. Amin.

Masak sendiri untuk mengobati rindu kampung halaman
Mempersiapkan barisan upacara 17 Agustus

Air Terjun Mini di Kapuas Hulu

Kabupaten Kapuas Hulu yang berada di Provinsi Kalimantan Barat, menyimpan banyak potensi pariwisata yang dapat dijadikan objek wisata baru. Ketika sedang bertugas di slah satu perusahaan yang berlokasi di kabupaten tersebut, ada beberapa Air Terjun atau Riam yang bisa dijumpai dan sangat mudah di jangkau, salah satunya Air Terjun Melancau.

Air terjun melancau terletak di Desa Sungai Mawang, Kecamatan Puring Kencana – Kapuas Hulu. Letaknya tidak jauh dari perkampungan dan areal perkebunan kelapa sawit, sehingga tidak sulit untuk menuju kesana. Namun, kurangnya perhatian atas Air Terjun ini membuatnya menjadi tidak terawat dan memprihatinkan. Kami beruntung saat mendatangi tempat tersebut, kondisinya masih layak untuk dinikmati. Maka, dibawah ini dilampirkan beberapa foto untuk Air Terjun Melancau yang berada di pinggiran pemukiman tersebut.

Pelayanan Gereja yang Menghasilkan Buah

Pada tanggal 30 Mei 2019 bertempat di Area Wisata Danau Laet, Desa Subah, diselenggarakan Ibadah Padang oleh 5 Jemaat Gepembri yakni Jemaat Sejotang, Jeramun, Batubesi, Yongkok, dan Serama. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pelayanan yang Menghasilkan Buah. Mengangkat tema khotbah “Keluarga yang menyembah Tuhan” dari Yosua 24 : 15B, Firman Tuhan dibawakan langsung oleh Pdt. Petrus Asran.

Berikut foto-foto kegiatan Ibadah Padang dari Palayanan Gereja yang menghasilkan Buah pada tangga; 30 Mei 2019 di Area Wisata Danau Laet.

Badau (Kalbar), berapa biaya untuk kesana?

Pernahkah mendengar nama kota Badau di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia? Badau merupakan salah satu dari tiga kota kecamatan di Provinsi ini yang merupakan PLBN (Pos Lintas Batas Negara) dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, yakni Malaysia. Selain Badau, ada Aruk di kabupaten Sambas dan Entikong di kabupaten Sanggau. Badau menjadi salah satu kecamatan yang berada di wilayah kapupaten Kapuas Hulu. PLBN Badau di resmikan oleh Bpk. Joko Widodo (Presiden RI) pada 16 Maret 2017, pembangunan PLBN ini di harapkan sebagai sarana pendukung untuk menjadikan Kota Badau menjadi pusat ekonomi baru di bagian Utara Kalimantan Barat.

Di Kecamatan Badau dan sekitarnya terdapat perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat, dibandingkan 5 tahun lalu, saat ini semakin berkembang pesat terlihat dari jalan negara yang sudah diperbaiki serta semakin banyaknya pertokoan yang dibangun. Dari Kota Pontianak, Badau berjarak sekitar 550 KM via jalur darat yang dapat ditempuh dalam 13 Jam perjalanan. Untuk mencapai Kota Badau, saat ini tidak lah sesulit 9 tahun lalu yang harus di tempuh via jalur air dengan lama tempuh sekitar 22 Jam.

Saat ini untuk menuju ke Kota Badau dapat ditempuh menggunkan jalur darat dengan jasa transportasi Taxi/Travel dan Bus reguler.
a. Taxi/Travel
– Jam Berangkat : – Pukul 11.00 s/d 13.00, dari Kota Badau
– Pukul 18.00 s/d 21.00, dari Kota Pontianak
– Harga Tiket : Rp 500.000,-
b. Bus Reguler
– Jam Berangkat : – Pukul 09.00 s/d 10.00, dari Kota Badau
(Bus Valenty dan Bus Putra Kembar)
– Pukul 16.00 s/d 17.00, dari Kota Pontianak
(Bus Valenty dan Bus Putra Kembar)
– Harga Tiket : Rp 350.000


Ditulis oleh : auditor5

Riam Setegung, Catatan Fotografer

Apa yang ada di benak kita jika mendengar kata ‘Riam‘ ? Untuk masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat, sangatlah familiar dengan kata tersebut yang jika di artikan sama dengan ‘Air Terjun’ dalam bahasa Indonesia. Di Provinsi Kalimantan Barat, terdapat beberapa Riam yang yang sudah di kenali oleh masyarakat pada umumnya melalui postingan dan upload  di sosial media yakni diantaranya Riam Mananggar dan Riam Dait. Apakah hanya itu saja riam yang ada? Salah satunya yang mulai dikenali secara luas adalah Riam Setegung di Desa Mungguk, Kecamatan Ngabang, Kalimantan Barat.
Pada tanggal 6 Juni 2019, penulis bersama rekan yang hobby Fotografi berkesempatan untuk melihat secara langsung Riam Setegung yang sedang banyak di perbincangkan. Berbeda dari review beberapa tulisan yang membahas keindahan Riam yang berada di dekat kota Ngabang, penulis  mereview bagaimana seorang Fotografer untuk mendapatkan hasil yang terbaik sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh orang lain. Dalam artian luas foto dapat menyampaikan keindahan secara langsung, dimana bertujuan untuk menarik minat pengunjung mencari tahu lebih lanjut mengenai objek yang di foto tersebut.
1. Perjalanan menuju ke Riam Setegung

    – Kondisi Jalan Raya Ngabang – Sosok

    – Pusat Kota Ngabang

    – Pintu Masuk ke Objek Wisata Riam Setegung

    – Tong Sampah tersedia di Pintu Masuk Riam  Setegung

    – Salah satu Kantin yang menjual makanan dan minuman
2. Behind the scene  pengambilan gambar Riam Setegung

    – Pemilihan posisi menentukan hasil akhir yang maksimal   

    – Menjelajahi bebantuan mengering (1)

    – – Menjelajahi bebantuan mengering (2)

    – Mencari posisi yang tidak biasa untuk hasil berbeda dibandingkan fotografer lain

    – Ini fotografer kemarin nanyain apa ya 

    –  Kondisi Riam Setegung yang mengering sangat jarang ditemui

    – memanjat tebing bebatuan bukan halangan bagi seorang fotografer

    – Longshoot Exposure
3. Hasil perjuangan seorang Fotografer di Riam Setegung

Mari kembangkan objek wisata yang ada di sekeling kita dengan cara terus merawat dan mempublikasikannya secara baik.
penulis      : auditor, credit foto : ardi black

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai